
MEMIMPIN DAN DIPIMPIN
SEBAGAI ASPEK PENGINJILAN
(Carl Herman Saptenno)
Ketua Angkatan 2003 Filsafat UKIM
ORGANISASI dalam Lembaga, kemasyarakatan, gereja, dan bahkan dalam pemerintahan atau lembaga apapun bentuknya dalam sebuah institusi sangat membutuhkan faktor kepemimpinan. Sebenarnya Memimpin dan dipimpin telah menjadi 2 aspek yang tak terpisahkan dan selalu menjadi sub ordinat dari kepemimpinan tersebut. sebab jika tidak, dalam Memimpin tanpa ada yang dipimpin jelas menjadi omong kosong dan hanya berupa mimpi yang tak nyata. Sebaliknya anggota yang dipimpin tetapi tidak ada yang memimpin maka hanya akan menimbulkan anarki atau berjalan tanpa arah. Dari ulasan singkat ini maka Timbul pertanyaan bagi kita Apakah kepemimpinan itu bakat yang dibawa sejak lahir (Anugerah, talenta, bakat) atau memimpin diciptakan melalui proses pembelajaran? Hal ini terus akan menjadi Perdebatan bahwa seorang pemimpin harus diciptakan melalui proses pembelajaran dan pelatihan.
Sebenarnya tidaklah mudah menjadi seorang pemimpin. Perlu banyak sekali pengorbanan yang dilakukan. Harus sabar menghadapi berbagai halangan melintang. Tenang dalam menyelesaikan masalah-masalah. Bijak dalam berkata-kata.mampu membagi tugas-tugas kepada yang dipimpin, serta dicintai oleh yang dipimpinnya. Bagi Orang yang tidak pernah atau jarang untuk maju sebagai pemimpin, akan terasa sulit dan sangat butuh banyak belajar tentang kepemimpinan. Belajar dari pemimpin-pemimpin sukses yang memiliki wibawa dan integritas. Sama halnya dengan menjadi seorang yang dipimpin. Ketaatan kepada pemimpin menjadi nomor 1. Bagaimana ikut mendukung yang direncanakan oleh pemimpin, bagaimana ikut mensukseskan hal-hal yang baik. Kesulitannya adalah ketika satu hal tidak sesuai dengan hati, maka yang dipimpin merasa enggan untuk bergerak dan menjadi malas. Bagi orang-orang yang sudah biasa memegang tampuk kepemimpinan, juga akan terasa sulit. Obsesi pemimpin yang terlalu kuat, bisa jadi menampilkan nafsu diri, walaupun memiliki mimpi yang baik, cara yang baik, dan tujuan yang baik. Bagi orang yang terbiasa menjadi orang yang dipimpin akan merasa dirinya biasa-biasa saja, tidak punya peran, mungkin menganggap dirinya tidak penting.
Kita harus banyak belajar tentang kepemimpinan, baik memimpin maupun dipimpin.
Untuk itu makna memimpin memiliki pengertian yaitu seseorang atau sekelompok orang yang membawahi orang per orang atau kelompok orang untuk menjalankan aktivitas perkumpulan atau organisasi guna mencapai tujuan dan maksud dari perkumpulan atau organisasi tersebut. Dalam menjalankan proses memimpin sangat di butuhkan dasar kesepakatan bersama yang bersifat koluktifitas organisasi ataupun aturan mainnya sehingga dapat berjalan secara terukur dan terarah menurut tujuan dimaksud. Sebaliknya demikian pula dengan pengertian dipimpin, yaitu kelompok orang yang dipimpin oleh pemimpin guna terwujudnya tujuan organisasi secara bersama.
Terkait dengan itu teori kepemimpinan dikenal yang namanya moralitas organisasi. Yaitu kepemimpinan yang berorientasikan terhadap kesatuan pikiran, hati dan tujuan bersama dalam mencapai kesepakatan bersama. Apalagi kondisi masyarakat dan bahkan gereja yang tidak begitu statis dalam pembelajaran kepemimpinan yang merata.
Proses Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) harus terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan momentnya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan demi kemajuan organisasi kedepan. Maka dalam kepemimpinan yang efektif, dan bertanggungjawab inilah harus adanya sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin. Terkait dengan itu maka seorang pemimpin harus memiliki jiwa leadership. Dalam artian pemimpin yang memiliki ketrampilan dalam mengolah program dan kebijakan-kebijakan dan mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan moment kepemimpinannya untuk dapat mempengaruhi perilaku anggota dalam berbagai situasi.
Seberat apapun tugas kita sebagai pemimpin, baik terlepas dari oganisasi formal - non formalnya atau skala besar - kecilnya, maka yang perlu kita lakukan adalah menciptakan persiapan sempurna menjelang peluang menjadi pemimpin yang akan datang. Persiapan adalah bagian dari solusi mental sebelum solusi konkrit harus kita lakukan. Bahkan seringkali peluang apapun baru bisa kita dapatkan setelah kita memiliki persiapan mental yang layak untuk menerimanya. Sayangnya bagi sebagian besar warga gereja ini justru mengejar peluang menjadi pemimpin sementara tanpa mempersiapkan mental sebagai pemimpin.
Menyangkut masalah persiapan maka pilihan sepenuhnya berada di bawah kontrol kita yang ingin menjadi pemimpin; apakah kita mempersiapkan diri sebagai pemimpin atau sama sekali tidak mempersiapkannya. Moment tersebut akan menjemput kita dan konsekuensinya tergantung dari pilihan yang kita ciptakan. Karena kepemimpinan yang hidup adalah achievement, bukan gift, maka yang perlu kita persiapkan adalah melakukan perbaikan kepemimpinan dari dalam diri kita.
Terkait dengan itu maka jika kita ingin menjadi pemimpin yang sukses dalam kepemimpinan kita. Maka seharusnya kita awali dengan kesiapan untuk mau dipimpin dalam organisasi.
Sebelum kita memimpin orang lain, maka wujud dari kesiapan untuk dipimpin adalah begaimana memimpin diri kita (Personal Mastery). Wilayah yang harus kita kuasai adalah self understanding (pemahaman diri) dan self management (pengelolaan diri) yang meliputi perangkat nilai hidup, tujuan hidup, misi hidup kita. Kedua kemampuan tersebut akan mengantarkan kita menuju pola kehidupan beradab dan efektif. Dengan kata lain, self understanding dan self management pada saat kita dipimpin akan menciptakan tradisi hidup sehat di mana fokus adalah tujuan akhir, bukan lagi egoisme posisi jangka pendek tetapi realisasi misi. Jika tujuan akhir kita adalah kemajuan, kebahagian dan kesuksesan kita sebagai pemimpin yang bijak dan trampil dalam mengolah sebuah kebijakan demi yang kita pimpin.
Sebutan pemimpin terlepas dari perbedaan definisi, perbedaan status formal dan non-formal, perbedaan strata atau job title-nya. Sebab hal ini mengarah pada satu pemahaman sebagai sumber solusi suatu urusan. Jadi pemimpin adalah orang yang isi pikirannya berupa solusi bukan masalah, Memiliki syarat mutlak yang bersifat fundamental dalam artian Ia memiliki paket keahlian dan paket kekuatan. Paket keahlian merujuk pada kualitas personal yang sifatnya internal mulai dari skill, knowledge, attitude, atau lainnya. sedangkan paket kekuatan merujuk pada power yang bisa berbentuk kekayaan, networking, atau mungkin kekuatan fisik.
Dari uraian diatas maka menjadi seorang pemimpin seharusnya mampu menciptakan keadilan yang merata, keselamatan yang setara, kehidupan yang sejahtera, bagi kebahagiaan orang lain. Maka hal utama yang di inginkan oleh Yesus Kristus dalam hidup kita telah kita lakukan yaitu membritakan kabar baik (penginjilan) dalam kepemimpinan kita selaku pemimpin.
MUNGKIN ANDA ADALAH SALAH SATU YANG SAYA MAKSUD
“SEBUAH PROSES ADALAH AWAL KEPEMIMPINAN”
Mantap, Jeck !!! Hallo Filkostig.... SUKSES slalu...
BalasHapusNos Autem Praedicamus Christum Crucifixum